PECUNIA - Dalam sejarah mitologi Yunani, sedikit kisah cinta yang dampaknya sebesar hubungan antara Helen dan Paris. Kisah mereka bukan sekadar romansa terlarang, melainkan percikan api yang menyalakan salah satu perang paling legendaris sepanjang zaman Perang Troya.
Semua bermula dari sebuah perselisihan di antara para dewi Olimpus. Hera, Athena, dan Aphrodite bersaing memperebutkan gelar dewi tercantik. Untuk menyelesaikan pertikaian itu, Zeus menunjuk Paris, pangeran Troya yang juga dikenal dengan nama Alexander, sebagai hakim penentu. Masing-masing dewi mencoba menyuap Paris dengan janji yang menggoda yaitu kekuasaan, kejayaan perang, dan kebijaksanaan. Namun Paris memilih hadiah paling memikat hatinya, cinta dan kecantikan abadi.
Aphrodite pun menang, dan sebagai imbalannya, ia menjanjikan Paris wanita tercantik di dunia yaitu Helen dari Sparta.
Baca Juga : Asal Usul Manusia Menurut Mitologi Sumeria Kuno
Masalahnya, Helen bukanlah wanita bebas. Ia adalah istri Menelaus, raja Sparta, dan dikenal sebagai simbol keanggunan serta kehormatan Yunani. Namun campur tangan para dewa sering kali mengabaikan batasan moral manusia. Dengan bantuan Aphrodite, Paris datang ke Sparta sebagai tamu kehormatan. Di sanalah, antara tatapan dan bisikan, benih cinta atau mungkin nafsu yang dikutuk mulai tumbuh.
Apakah Helen benar-benar jatuh cinta, atau ia terperangkap oleh sihir sang dewi cinta, tak pernah benar-benar jelas. Namun satu hal pasti, Helen meninggalkan Sparta bersama Paris dan berlayar menuju Troya. Tindakan ini bukan hanya penghinaan bagi Menelaus, tetapi juga pelanggaran besar terhadap kehormatan Yunani.
Pengkhianatan itu memicu kemarahan besar. Menelaus meminta bantuan saudara laki-lakinya, Agamemnon, raja Mycenae. Di bawah kepemimpinannya, pasukan Yunani dari berbagai kerajaan bersatu dan berlayar menuju Troya. Maka dimulailah pengepungan panjang yang berlangsung selama sepuluh tahun.
Baca Juga : Legenda Jembatan Befort, Gerbang Sunyi Menuju Alam Kematian
Dalam epos Iliad karya Homer, Paris digambarkan jauh dari sosok pahlawan ideal. Ia lebih dikenal sebagai pemuda tampan yang ragu-ragu dan sering menghindari pertempuran. Dalam duel melawan Menelaus, Paris hampir terbunuh. Hanya campur tangan Aphrodite yang menyelamatkannya dan membawanya kembali ke dalam tembok kota.
Bahkan Helen sendiri mulai memandang Paris dengan kebencian. Ia menyesali pilihannya, merasa bersalah atas darah yang tertumpah karena dirinya. Namun lagi-lagi, kehendak dewi lebih kuat daripada kehendak manusia. Aphrodite memaksa Helen tetap berada di sisi Paris, terjebak dalam hubungan yang semakin terasa seperti kutukan daripada cinta.
Paris pun terus menerima cemoohan, baik dari Helen maupun dari saudara-saudaranya sendiri, terutama Hector sang pahlawan sejati Troya. Hector kerap menegur Paris karena dianggap pengecut dan tidak layak menjadi penyebab kehancuran kota mereka.
Baca Juga : Dari Mana Anubis Berasal dan Mengapa Anubis Berkepala Serigala?
Akhirnya, takdir menjemput Paris di medan perang. Ia tewas oleh panah beracun yang dilepaskan oleh Philoctetes, menandai akhir dari peran pria yang keputusannya mengguncang dunia Yunani dan Troya.
Setelah Troya jatuh, Helen dikembalikan kepada Menelaus. Banyak yang mengira ia akan dibunuh karena dianggap sebagai penyebab perang. Namun pesona Helen kembali menyelamatkannya. Menelaus, yang masih terikat oleh cinta lamanya, memilih memaafkan dan membawa Helen pulang ke Sparta.
Kisah Helen dan Paris bukanlah cerita cinta yang indah, melainkan tragedi tentang pilihan, hasrat, dan campur tangan para dewa. Cinta mereka dikenang bukan karena kebahagiaan, tetapi karena kehancuran besar yang ditinggalkannya sebuah pelajaran pahit dari mitologi Yunani kuno bahwa keindahan dan keinginan, bila disalahgunakan, dapat menjadi awal bencana besar.
Baca Juga : Seth Penguasa Kekacauan, Bayang-Bayang Padang Pasir Mesir
