Kamis, 08 Januari 2026

Kalamakara dalam Mitologi Jawa Majapahit: Penjaga Gerbang dan Simbol Kekacauan

PECUNIA - Pada masa kejayaan Majapahit, rasa takut masyarakat Jawa tidak selalu tertuju pada perang atau wabah. Ada ketakutan lain yang lebih sunyi namun meresap ke dalam kehidupan sehari-hari yaitu ketakutan akan kekacauan, ketidakteraturan, dan manusia yang kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Dari ketakutan inilah muncul sosok yang dikenal sebagai Kalamakara.

Dalam pemahaman Jawa kuno, Kalamakara bukan sekadar makhluk buas yang mengintai manusia. Ia adalah simbol waktu yang melahap segalanya. Kata kala berarti waktu, sementara makara merujuk pada kekuatan penghancur. Kalamakara dipercaya sebagai personifikasi kekacauan yang lahir ketika manusia melanggar tatanan hidup.

Pada relief-relief candi peninggalan Majapahit, wajah Kalamakara digambarkan menganga lebar, bertaring, bermata melotot, dan tanpa rahang bawah. Ia diletakkan tepat di atas pintu masuk bangunan suci. Penempatan ini bukan tanpa alasan. Bagi masyarakat saat itu, pintu adalah batas antara dunia luar yang liar dan ruang dalam yang tertata. Kalamakara berfungsi sebagai penjaga batas tersebut.

Baca Juga : Sunan Kalijaga dan Wayang, Bahasa Rahasia Dakwah dalam Budaya Jawa

Ia tidak menghalangi manusia yang berniat baik, tetapi dipercaya akan “menelan” niat buruk, kesombongan, dan kekacauan batin siapa pun yang masuk tanpa kesadaran diri.

Dalam cerita yang beredar di kalangan rakyat Majapahit, Kalamakara muncul bukan di hutan atau gua, melainkan di tempat-tempat peralihan: gerbang kota, persimpangan jalan, dan pintu candi. Ia tidak memburu korban, melainkan menunggu. Mereka yang melanggar sumpah, menghina tatanan, atau hidup tanpa kendali akan merasa “ditelan” oleh nasib buruk kejatuhan sosial, kehancuran keluarga, atau kegilaan batin.

Karena itu, Kalamakara lebih ditakuti daripada dipuja.

Para pendeta dan empu Majapahit mengajarkan bahwa Kalamakara tidak bisa dilawan dengan senjata, tetapi hanya bisa dihindari dengan laku hidup yang benar. Disiplin diri, kesadaran waktu, dan penghormatan pada aturan kosmis dianggap sebagai tameng terbaik. Dalam pandangan ini, Kalamakara bukan musuh manusia, melainkan pengingat yang kejam.

Baca Juga : Mitos atau Fakta? Rahasia Kelam di Balik Larangan Pakaian Hijau Nyi Roro Kidul

Masyarakat Majapahit percaya bahwa setiap zaman memiliki Kalamakaranya sendiri. Ketika penguasa lupa pada rakyat, ketika hukum dipermainkan, dan ketika keserakahan menguasai batin, Kalamakara menjadi semakin “lapar”. Ia hadir bukan sebagai makhluk, tetapi sebagai rangkaian peristiwa buruk yang sulit dijelaskan.

Inilah sebabnya sosok Kalamakara tetap dipertahankan dalam seni dan arsitektur Jawa bahkan setelah runtuhnya Majapahit. Ia tidak pernah dianggap sebagai peninggalan masa lalu, melainkan simbol peringatan yang selalu relevan. Setiap wajah Kalamakara di atas gerbang adalah pesan sunyi: tidak semua yang masuk pantas berada di dalam.

Hingga kini, makna Kalamakara masih hidup dalam budaya Jawa. Ia mengajarkan bahwa kehancuran tidak selalu datang dari luar, tetapi sering lahir dari dalam diri manusia sendiri dari waktu yang disia-siakan, batas yang dilanggar, dan kesadaran yang ditinggalkan.

Baca Juga : Sabdo Palon, Semar, dan Pulau Jawa, Mitos Penjaga Tanah Jawa yang Masih Hidup

Dalam mitologi Jawa, Kalamakara memang mengerikan. Namun yang membuatnya benar-benar menakutkan adalah kenyataan bahwa ia tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu, di setiap batas yang kita langgar tanpa sadar.