Sabtu, 27 Desember 2025

Legenda Jembatan Befort, Gerbang Sunyi Menuju Alam Kematian

 


Dalam mitologi Yunani yang jarang diceritakan, terselip sebuah legenda tentang Jembatan Befort, sebuah jembatan batu tua yang membentang di antara dunia manusia dan wilayah kelam milik Hades. Jembatan ini tidak seterkenal Sungai Styx atau perahu Charon, sebab tidak semua jiwa diizinkan melewatinya.

Konon, Jembatan Befort diciptakan pada masa awal para dewa, ketika batas antara hidup dan mati belum sepenuhnya kokoh. Zeus memerintahkan Hephaistos, sang pandai besi para dewa, untuk menempa sebuah jembatan dari batu obsidian dan perak hitam bukan untuk kemegahan, melainkan sebagai jalan penghakiman.

Tidak seperti Styx yang menuntut koin, Jembatan Befort menuntut kejujuran jiwa.

Jembatan itu membentang di atas jurang tanpa dasar. Kabut pekat menyelimuti pijakannya, dan setiap langkah memantulkan bisikan masa lalu. Jiwa-jiwa yang melangkah di atasnya akan melihat kembali hidup mereka, dosa yang disembunyikan, janji yang dilanggar, dan kebaikan yang tak pernah mereka banggakan.

Baca Juga : Irkalla, Dunia bawah Mitologi Babilonia

Di ujung jembatan berdiri Befortes, roh penjaga tanpa wajah, makhluk kuno yang bahkan para dewa enggan menatapnya lama-lama. Ia tidak berbicara, tidak menuduh, hanya mengulurkan tongkat batu. Bila tongkat itu bergetar saat jiwa melintas, maka jiwa tersebut akan jatuh ke jurang, terperangkap selamanya dalam penyesalan yang tak berujung.

Namun bila tongkat itu diam, jiwa tersebut boleh melanjutkan perjalanan bukan menuju hukuman, melainkan ke Padang Asphodel, tempat jiwa-jiwa yang hidup seimbang beristirahat dalam keabadian yang tenang.

Para pahlawan besar pun gentar pada Jembatan Befort. Dikisahkan bahwa Theseus, dalam salah satu perjalanan rahasianya ke dunia bawah, memilih jalur Styx daripada menantang jembatan ini. Sebab bahkan pahlawan tahu, keberanian tidak selalu mampu melawan kebenaran diri sendiri.

Para pendeta Yunani kuno percaya, gempa kecil dan retakan tanah yang tiba-tiba muncul di malam hari adalah gema dari jiwa-jiwa yang gagal menyeberangi Jembatan Befort. Karena itu, jembatan ini tidak dipuja, tidak pula digambarkan dalam kuil ia hanya diceritakan dari mulut ke mulut, sebagai peringatan sunyi.

Bahwa setelah kematian, bukan dewa yang paling menakutkan…

melainkan ingatan kita sendiri.