Sabtu, 10 Januari 2026

Mengapa Pulau Jawa Penuh Gunung? Konon Ini Adalah Paku Dunia dari Para Dewa

PECUNIA - Dalam kepercayaan Jawa kuno, Pulau Jawa tidak serta-merta muncul seperti yang dikenal sekarang. Pada awal penciptaan, tanah Jawa diceritakan belum memiliki keseimbangan. Pulau ini digambarkan masih mengambang di lautan kosmik, bergerak tanpa arah, dan sering bergeser sehingga membuat alam di sekitarnya tidak tenang. Kondisi ini dipercaya menyebabkan kekacauan di bumi, di mana angin, gempa, dan gelombang besar terus terjadi tanpa henti.

Para dewa di kahyangan menyadari bahwa tanah Jawa memiliki peran penting dalam keseimbangan dunia. Namun selama pulau itu terus bergerak, kehidupan tidak akan pernah bisa tumbuh dengan sempurna. Karena itulah, para dewa bermusyawarah untuk menstabilkan Pulau Jawa agar dapat menjadi tempat bersemayamnya manusia dan makhluk hidup lainnya.

Dalam mitologi Jawa, tugas besar ini dipercayakan kepada Batara Guru, penguasa kahyangan. Ia memerintahkan para dewa untuk mencari cara memaku Pulau Jawa agar tidak lagi mengambang. Dari musyawarah itulah muncul gagasan memindahkan Gunung Mahameru, gunung suci yang menjadi pusat alam semesta, dari tanah India ke Pulau Jawa.

Baca Juga : Bukan Mitos Biasa, Ini Hari dan Weton Jawa yang Masih Dihindari Banyak Orang

Gunung Mahameru dipercaya mengandung kekuatan kosmik yang mampu menstabilkan dunia. Saat gunung suci itu dipindahkan, Pulau Jawa yang sebelumnya ringan dan tidak seimbang mulai terasa berat. Namun karena Mahameru sangat besar, pulau itu justru miring dan hampir terbalik. Melihat hal tersebut, para dewa kembali turun tangan dengan memecah Gunung Mahameru menjadi beberapa bagian dan menancapkannya di berbagai wilayah Pulau Jawa.

Bagian puncak Mahameru dipercaya menjadi Gunung Semeru, sementara pecahan lainnya menjelma menjadi gunung-gunung besar di sepanjang Pulau Jawa. Setiap gunung tidak hanya berfungsi sebagai penahan fisik, tetapi juga sebagai paku spiritual yang menjaga keseimbangan energi bumi. Sejak saat itu, Pulau Jawa dipercaya tidak lagi mengambang dan mulai stabil.

Masyarakat Jawa kuno meyakini bahwa gunung-gunung di Pulau Jawa bukan sekadar bentang alam, melainkan titik-titik sakral tempat bersemayamnya kekuatan gaib. Gunung menjadi penghubung antara dunia manusia dan kahyangan. Karena itulah, hingga kini gunung-gunung di Jawa dianggap keramat dan diperlakukan dengan penuh penghormatan.

Baca Juga : Mitos atau Fakta? Rahasia Kelam di Balik Larangan Pakaian Hijau Nyi Roro Kidul

Kepercayaan ini juga menjelaskan mengapa Pulau Jawa memiliki banyak gunung berapi aktif. Dalam pandangan mitologi, aktivitas gunung bukan sekadar gejala alam, melainkan tanda bahwa energi kosmik masih bekerja menjaga keseimbangan dunia. Letusan gunung dipandang sebagai cara alam melepaskan tekanan agar tatanan tetap harmonis.

Hingga sekarang, cerita tentang Pulau Jawa yang dipaku oleh para dewa masih hidup dalam tradisi lisan, kitab kuno, dan kepercayaan masyarakat. Mitos ini bukan hanya kisah penciptaan, tetapi juga pengingat bahwa tanah Jawa dianggap sebagai wilayah suci yang dijaga oleh kekuatan besar, baik yang terlihat maupun yang tak kasat mata.

Bagi masyarakat Jawa, asal usul Pulau Jawa bukan sekadar legenda, melainkan warisan spiritual yang mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan kosmis. Selama gunung-gunung tetap berdiri dan manusia masih menghormati alam, Pulau Jawa dipercaya akan terus berada dalam keadaan seimbang.

Baca Juga : Kalamakara dalam Mitologi Jawa Majapahit: Penjaga Gerbang dan Simbol Kekacauan