Jumat, 02 Januari 2026

Asal Usul Manusia Menurut Mitologi Sumeria Kuno


PECUNIA - Sebelum manusia mengenal nama dan sebelum doa pertama terucap, alam semesta terbagi ke dalam dua wilayah besar, langit yang dihuni para dewa, dan bumi yang masih berupa tanah liat basah tanpa bentuk. Pada masa itu, dunia belum tenang. Para dewa harus bekerja tanpa henti untuk menjaga keteraturan kosmos mengalirkan sungai, menahan banjir, dan membangun fondasi kehidupan. Keabadian tidak membuat mereka bahagia, justru membuat beban itu terasa abadi pula.

Pekerjaan terberat ditanggung oleh para dewa tingkat rendah yang dikenal sebagai Igigi. Mereka menggali kanal dan mengolah bumi demi kepentingan para Anunnaki, dewa-dewa agung yang memerintah dari langit. Waktu berlalu begitu lama hingga kelelahan berubah menjadi amarah. Para Igigi akhirnya memberontak, meninggalkan alat kerja mereka dan mengepung kediaman Enlil, dewa penguasa langit. Malam itu, untuk pertama kalinya, ketakutan menyusup ke dalam hati para dewa.

Baca Juga : Apkallu dalam Mitologi Mesopotamia, Asal Usul Guru Kuno dari Zaman Pra-Sejarah

Dewan Anunnaki pun berkumpul untuk mencari jalan keluar. Enlil menuntut hukuman keras bagi para pemberontak, tetapi Enki, dewa kebijaksanaan dan air kehidupan, menawarkan solusi yang lebih radikal. Ia mengusulkan penciptaan makhluk baru makhluk yang tidak abadi, namun cukup cerdas dan kuat untuk menggantikan pekerjaan para dewa. Makhluk itu kelak akan bekerja, membangun, dan memelihara dunia, sementara para dewa kembali hidup dalam kemegahan.

Untuk mewujudkan rencana itu, Enki memanggil Ninhursag, dewi bumi dan kelahiran. Dari lembah subur antara sungai Tigris dan Efrat, Ninhursag mengambil tanah liat yang lembap, tanah yang telah ditempa banjir dan matahari. Namun tanah saja tidak cukup. Agar makhluk baru ini memiliki kesadaran, Enki memutuskan pengorbanan besar. Darah Kingu, dewa yang memimpin pemberontakan, dicampurkan ke dalam tanah liat tersebut.

Baca Juga : Dari Kegelapan Menuju Cahaya, Kisah Awal Amun-Ra

Dari perpaduan tanah dan darah ilahi itulah manusia diciptakan. Tubuh mereka berasal dari bumi, tetapi pikiran dan emosi mereka membawa jejak keilahian. Manusia tidak dilahirkan sebagai makhluk suci, melainkan sebagai hasil kompromi kosmis solusi atas konflik para dewa. Mereka diciptakan untuk bekerja, mengelola alam, membangun kota, dan mempersembahkan doa sebagai balasan atas perlindungan para dewa.

Namun ada satu hal yang sengaja tidak diwariskan kepada manusia yaitu keabadian. Orang Sumeria percaya bahwa kegelisahan, kelelahan, dan keinginan manusia untuk melampaui batasnya berasal dari darah dewa pemberontak yang mengalir dalam diri mereka. Sementara kemampuan bertahan hidup dan membangun peradaban datang dari tanah yang membentuk tubuh mereka. Sejak saat itu, manusia hidup di antara dua dunia membawa ambisi langit, tetapi terikat pada keterbatasan bumi.

Baca Juga : Asal Usul Mengapa Raja Mesir Disebut Firaun