Sabtu, 27 Desember 2025

Seth Penguasa Kekacauan, Bayang-Bayang Padang Pasir Mesir


Di antara para dewa Mesir Kuno, tidak ada sosok yang lebih ditakuti sekaligus dibenci selain Seth dewa yang menjadi simbol kehancuran, kekacauan, dan badai yang mengamuk di padang pasir. Ia bukan sekadar antagonis dalam mitologi, melainkan perwujudan kekuatan liar yang selalu mengancam keseimbangan kosmos Mesir.

Seth dikenal sebagai saudara Osiris, namun hubungan darah tak mampu meredam ambisinya. Didorong oleh iri hati dan hasrat berkuasa, Seth melakukan kejahatan paling mengerikan dalam kisah para dewa, ia membunuh Osiris dengan licik, lalu memutilasi tubuh saudaranya dan menyebarkan potongan-potongannya ke seluruh penjuru negeri. Tindakan ini bukan hanya pembunuhan, tetapi simbol hancurnya tatanan dan keharmonisan dunia.

Dalam kosmologi Mesir, Seth dikaitkan dengan padang pasir yang tandus, badai pasir yang membutakan, serta wilayah-wilayah asing yang dianggap berbahaya. Beberapa tradisi bahkan menghubungkannya dengan planet Merkurius, yang bergerak cepat dan tak menentu cerminan sifat Seth yang tak bisa diprediksi. Meski ditakuti, ia pernah dipuja, terutama di kota Ombos (Naqada modern), tempat kekuatannya dihormati sebagai pelindung sekaligus ancaman.

Berbeda dengan dewa-dewi lain yang memiliki wujud jelas seperti elang, singa, atau buaya, rupa Seth adalah teka-teki. Ia digambarkan sebagai makhluk aneh yang tak menyerupai hewan mana pun di bumi. Kepalanya memiliki moncong panjang, telinga tegak berujung persegi, dan bentuk tubuh yang terasa asing, seolah ia berasal dari dunia yang tidak sepenuhnya milik manusia maupun dewa. Keanehan ini justru menegaskan perannya sebagai lambang kekacauan dan ketidakteraturan.

Setelah kematian Osiris, konflik tidak berhenti. Permusuhan berlanjut dalam pertarungan panjang antara Seth dan Horus, putra Osiris, yang berjuang merebut hak atas takhta Mesir. Kisah ini tercatat dalam naskah kuno Papirus Chester Beatty dari Dinasti ke-20, dikenal sebagai Persaingan antara Seth dan Horus. Pertarungan mereka bukan sekadar adu kekuatan, melainkan pertarungan prinsip kekacauan melawan keteraturan, kehancuran melawan keadilan.

Dalam salah satu episode paling brutal, Seth digambarkan kehilangan buah zakarnya, simbol kemandulan dan runtuhnya kekuasaan maskulin sementara Horus kehilangan salah satu matanya, yang kemudian dikenal sebagai Mata Horus, lambang penyembuhan dan perlindungan. Meskipun keduanya menderita, pada akhirnya Horus muncul sebagai pemenang, dan Seth kehilangan klaimnya atas tahta.

Namun, meski kalah, Seth tidak pernah sepenuhnya lenyap. Ia tetap hadir sebagai pengingat bahwa di balik keteraturan dunia, selalu ada kekuatan gelap yang siap bangkit. Dalam mitologi Mesir, Seth bukan sekadar penjahat, ia adalah bayangan abadi yang membuat cahaya para dewa lain tetap bermakna.