PECUNIA - Sebelum kota-kota pertama berdiri dan sebelum nama para raja diukir di tanah liat, manusia Mesopotamia hidup di tepi sungai yang tak bisa mereka kendalikan. Air memberi kehidupan, tetapi juga membawa kehancuran. Tidak ada aturan tetap, tidak ada hukum yang tertulis, dan tidak ada pemahaman tentang waktu selain pergantian siang dan malam.
Pada masa itulah, muncul kelompok asing yang kelak dikenal sebagai Apkallu.
Mereka tidak mengaku sebagai dewa. Mereka juga tidak meminta disembah. Namun kehadiran mereka segera membedakan diri dari manusia lain. Cara mereka berbicara sistematis, perhitungan mereka presisi, dan pengetahuan mereka tentang alam jauh melampaui pengalaman masyarakat saat itu.
Bagi manusia purba, perbedaan ini terasa mengganggu namun juga sangat dibutuhkan.
Asal-usul yang Tidak Pernah Dijelaskan
Tidak ada kisah jelas tentang dari mana Apkallu berasal. Catatan tertua hanya menyebut bahwa mereka “datang dari air.” Sebagian orang melihat mereka pertama kali di rawa-rawa dan muara sungai, mengenakan penutup kepala berbentuk ikan dan pakaian yang tak lazim.
Penampilan ini bukan untuk menakut-nakuti. Itu adalah simbol bahwa ilmu yang mereka bawa lahir dari air, sumber kehidupan sekaligus kehancuran. Lambat laun, simbol itu melekat, dan generasi berikutnya menggambarkan Apkallu sebagai makhluk setengah manusia, setengah ikan.
Baca Juga : Dari Kegelapan Menuju Cahaya, Kisah Awal Amun-Ra
Membangun Peradaban, Bukan Kekuasaan
Apkallu tidak mendirikan kerajaan. Mereka justru menghindari kekuasaan langsung. Yang mereka lakukan adalah mengajarkan sistem.
Mereka menunjukkan cara mengatur aliran sungai dengan tanggul sederhana, cara mencatat hasil panen, dan cara mengamati bintang untuk memahami musim. Mereka mengubah kebiasaan lisan menjadi simbol tertulis agar aturan tidak bergantung pada ingatan atau kekuatan satu orang.
Dalam waktu singkat, desa-desa tumbuh menjadi kota. Kehidupan menjadi lebih stabil. Untuk pertama kalinya, manusia merasakan keteraturan.
Namun keteraturan ini datang dengan harga yang tak disadari.
Ilmu yang Melahirkan Ketimpangan
Ketika pengetahuan Apkallu hanya dikuasai segelintir orang, keseimbangan mulai goyah. Mereka yang memahami tulisan dan perhitungan memperoleh kuasa lebih besar. Dari sinilah lahir raja-raja pertama bukan sebagai pemimpin bijak, melainkan sebagai pengendali sistem.
Hukum tidak lagi melindungi semua orang. Ia menjadi alat untuk menekan dan mengatur. Ritual yang diajarkan sebagai sarana menjaga hubungan dengan alam berubah menjadi simbol legitimasi kekuasaan.
Apkallu menyaksikan perubahan ini dengan gelisah. Ilmu yang mereka berikan untuk menjaga kehidupan justru menciptakan jurang antara manusia.
Perpecahan di Antara Para Guru
Catatan kuno menyiratkan bahwa para Apkallu tidak lagi sepakat. Sebagian percaya bahwa manusia harus dibiarkan belajar melalui kesalahan. Sebagian lain ingin menarik kembali ajaran mereka sebelum dampaknya semakin luas.
Namun keputusan akhirnya sama mereka harus pergi.
Bukan karena dihukum para dewa, melainkan karena mereka memahami batas peran mereka sendiri. Peradaban tidak bisa selamanya bergantung pada guru.
Kepergian Tanpa Legenda
Tidak ada perang, tidak ada pengkhianatan. Apkallu pergi seperti mereka datang perlahan dan tanpa penjelasan. Beberapa kembali ke wilayah perairan, menghilang dari pusat-pusat kota. Yang lain lenyap dari catatan, seolah sengaja tidak ingin dikenang secara utuh.
Yang tertinggal hanyalah simbol perlindungan: patung-patung makhluk bersayap dengan wajah manusia dan tubuh ikan, ditempatkan di pintu masuk rumah dan istana. Bukan untuk disembah, tetapi untuk mengingatkan.
Dunia Setelah Apkallu
Tak lama setelah itu, Mesopotamia memasuki masa penuh gejolak. Banjir besar menghancurkan kota, kekuasaan runtuh, dan dinasti berganti dengan cepat. Manusia menafsirkan semua itu sebagai murka ilahi.
Namun dalam ingatan yang lebih dalam, Apkallu dipahami bukan sebagai penyebab, melainkan sebagai saksi terakhir dari peradaban yang terlalu cepat tumbuh.
Makna yang Tertinggal
Bagi orang Mesopotamia, Apkallu adalah bukti bahwa manusia pernah menerima pengetahuan sebelum mereka benar-benar siap memikulnya. Mereka bukan legenda penghibur, melainkan peringatan sejarah bahwa ilmu tanpa kebijaksanaan hanya akan melahirkan kehancuran yang lebih rapi.
Dan itulah sebabnya Apkallu selalu digambarkan menjaga ambang pintu: batas antara masa lalu yang hilang dan masa depan yang harus dipelajari dengan hati-hati.
Baca Juga : Dari Mana Anubis Berasal dan Mengapa Anubis Berkepala Serigala?
