Rabu, 07 Januari 2026

Sunan Kalijaga dan Wayang, Bahasa Rahasia Dakwah dalam Budaya Jawa


PECUNIA - Pada masa ketika Islam mulai menyebar di tanah Jawa, perubahan tidak datang sebagai gelombang yang langsung menyapu bersih kebiasaan lama. Jawa telah memiliki akar budaya yang dalam ritual, simbol, cerita, dan cara berpikir yang tidak bisa dipatahkan hanya dengan larangan. Di tengah masa peralihan inilah Sunan Kalijaga mengambil jalan yang berbeda.

Alih-alih menentang tradisi, ia memilih memahaminya.

Sunan Kalijaga melihat bahwa masyarakat Jawa tidak belajar melalui khotbah panjang atau aturan kaku. Mereka belajar melalui cerita, perumpamaan, dan simbol. Wayang, yang saat itu sudah hidup berabad-abad sebagai bagian dari budaya Jawa, bukan sekadar hiburan malam atau tontonan rakyat. Wayang adalah bahasa bahasa yang dipahami semua lapisan masyarakat.

Baca Juga : Mitos atau Fakta? Rahasia Kelam di Balik Larangan Pakaian Hijau Nyi Roro Kidul

Namun, bahasa itu harus diubah isinya, bukan dimusnahkan bentuknya.

Dalam tangan Sunan Kalijaga, wayang tidak lagi sekadar menceritakan kisah para dewa yang jauh dari kehidupan manusia. Tokoh-tokohnya diberi lapisan makna baru. Pandawa tidak lagi hanya pahlawan perang, tetapi simbol sifat manusia: kejujuran, kesabaran, pengendalian diri. Kurawa bukan sekadar musuh, melainkan cermin nafsu dan keserakahan.

Dakwah disampaikan tanpa menyebutnya sebagai dakwah.

Masyarakat datang menonton wayang untuk hiburan, tetapi pulang membawa nilai. Mereka mendengar kisah perang, tetapi sesungguhnya sedang belajar tentang benar dan salah. Mereka tertawa pada punakawan, tanpa sadar sedang menerima nasihat hidup yang paling dalam. Inilah cara Sunan Kalijaga menjaga agar budaya Jawa tidak tercerabut dari akarnya saat menerima ajaran baru.

Baca Juga : Sejarah Kanjeng Ratu Kidul dan Raja Mataram dalam Mitos Jawa

Wayang menjadi sandi budaya.

Di balik lakon Mahabharata dan Ramayana, terselip pesan tentang ketauhidan, keadilan sosial, dan kesadaran diri. Tidak ada paksaan, tidak ada pemutusan tradisi. Yang terjadi justru penyelarasan. Ajaran baru masuk lewat pintu yang sudah dikenal masyarakat Jawa sejak lama.

Inilah sebabnya Sunan Kalijaga dikenal bukan hanya sebagai tokoh agama, tetapi sebagai penjaga budaya Jawa. Ia memahami bahwa identitas sebuah masyarakat tidak bisa dihapus lalu diganti, melainkan harus dituntun agar tumbuh ke arah yang baru tanpa kehilangan jiwanya.

Hingga kini, wayang masih dimainkan. Bukan karena masyarakat Jawa menolak perubahan, tetapi karena mereka menemukan dirinya di dalam cerita-cerita itu. Setiap lakon adalah pengingat bahwa hidup selalu berada di antara pilihan, dan kebijaksanaan lahir dari kemampuan membaca tanda, bukan sekadar mengikuti aturan.

Baca Juga : Sabdo Palon, Semar, dan Pulau Jawa, Mitos Penjaga Tanah Jawa yang Masih Hidup

Dalam konteks ini, budaya Jawa tidak pernah bertentangan dengan ajaran moral. Ia hanya berbicara dengan bahasanya sendiri. Dan Sunan Kalijaga adalah orang yang paling memahami bahasa itu bahasa simbol, cerita, dan kesadaran.

Wayang bukan peninggalan masa lalu. Ia adalah pesan yang terus bergerak, selama masih ada orang Jawa yang mau mendengar dan memahami maknanya.