
PECUNIA - Pada masa lampau, ketika tanah Jawa belum mengenal hukum dan tata hidup yang tertata, kekuasaan berada di tangan mereka yang kuat dan kejam. Rakyat hidup dalam ketakutan, karena yang berkuasa saat itu adalah Dewata Cengkar, raja bengis yang memerintah dengan kekerasan. Ia tidak hanya merampas harta dan kebebasan rakyatnya, tetapi juga menjadikan manusia sebagai santapan. Negeri Jawa kehilangan arah dan keseimbangan.
Di tengah kekacauan itulah datang seorang pendatang dari seberang lautan bernama Aji Saka. Ia bukan dewa, bukan pula makhluk sakti, melainkan manusia yang membawa pengetahuan dan tatanan hidup. Bersamanya, Aji Saka membawa gagasan tentang hukum, bahasa, dan cara hidup yang beradab sesuatu yang belum dikenal oleh masyarakat Jawa kala itu.
Baca Juga : Asal Usul Dewa Jawa dan Retaknya Kahyangan dalam Mitologi Jawa Kuno
Dalam perjalanannya, Aji Saka tidak sendirian. Ia ditemani oleh dua pengikut setia yang telah mengabdi sejak lama, Dora dan Sembada. Keduanya dikenal jujur, teguh memegang janji, dan tidak pernah membantah perintah. Kesetiaan mereka kepada Aji Saka bukan karena takut, melainkan karena keyakinan bahwa tuannya membawa kebenaran.
Sebelum menghadapi Dewata Cengkar, Aji Saka menitipkan sebuah pusaka kepada Sembada. Ia berpesan dengan tegas agar pusaka itu dijaga sebaik mungkin dan tidak diberikan kepada siapa pun kecuali kepada Aji Saka sendiri. Sembada menerima perintah itu tanpa ragu, sebab baginya, amanah adalah kehormatan yang harus dijaga sampai mati.
Dengan kecerdikan dan strategi, Aji Saka akhirnya berhasil menumbangkan Dewata Cengkar. Kekejaman berakhir, dan rakyat Jawa menyambut perubahan dengan harapan baru. Aji Saka kemudian diangkat menjadi pemimpin, membawa hukum dan keteraturan ke tanah Jawa. Namun di tengah kesibukan memerintah, ia lupa pada pusaka yang telah dititipkannya.
Untuk mengambil pusaka tersebut, Aji Saka mengutus Dora. Dora menjalankan perintah itu dengan penuh keyakinan. Ia datang menemui Sembada dan menyampaikan bahwa Aji Saka meminta pusaka itu dikembalikan. Namun Sembada menolak, karena ia hanya menerima perintah untuk menyerahkan pusaka jika Aji Saka datang sendiri.
Baca Juga : Babi Ngepet dalam Mitologi Jawa, Ketika Nafsu Menjadi Wujud
Keduanya bersikeras. Dora yakin bahwa ia menjalankan perintah tuannya. Sembada pun merasa demikian. Tidak ada kebohongan, tidak ada niat buruk. Yang ada hanyalah dua kesetiaan yang saling berhadapan tanpa ruang untuk kebijaksanaan. Kata-kata berubah menjadi pertikaian, dan pertikaian berakhir dengan pertumpahan darah.
Dora dan Sembada gugur oleh tangan masing-masing. Dua abdi yang setia, dua jiwa yang jujur, harus mati bukan karena kejahatan, melainkan karena perintah yang tidak dipahami secara utuh. Tragedi itu menjadi luka mendalam yang tak bisa dihapus. Ketika Aji Saka mengetahui peristiwa tersebut, ia diliputi penyesalan yang mendalam. Ia menyadari bahwa kesalahan terbesar bukan pada Dora maupun Sembada, melainkan pada dirinya sendiri karena telah memberi perintah tanpa kebijaksanaan dan kejelasan.
Sebagai bentuk penyesalan dan peringatan bagi generasi selanjutnya, Aji Saka menyusun rangkaian aksara yang kelak dikenal sebagai aksara Jawa. Setiap rangkaiannya mengisahkan tragedi yang telah terjadi:
da ta sa wa la — mereka saling berselisih
pa dha ja ya nya — keduanya sama kuat dan setia
ma ga ba tha nga — inilah jasad mereka yang telah tiada
Baca Juga : Siapa Sebenarnya Ahool dalam Mitologi Jawa?
Sejak saat itu, aksara Jawa tidak sekadar menjadi alat untuk menulis, tetapi juga menjadi pengingat moral. Bahwa kesetiaan adalah nilai luhur, namun tanpa kebijaksanaan, kesetiaan dapat membawa kehancuran. Itulah sebabnya, orang Jawa memandang aksara bukan hanya sebagai simbol bunyi, melainkan sebagai warisan nilai kehidupan. Setiap huruf mengandung pesan agar manusia berpikir sebelum bertindak, memahami sebelum menaati, dan menimbang sebelum setia.