Sabtu, 27 Desember 2025

Siapa Sebenarnya Ahool dalam Mitologi Jawa?

 


Pada masa ketika hutan-hutan Jawa masih lebih tua daripada nama desa, dan gunung-gunung belum diberi tanda di peta manusia, ada satu wilayah yang dianggap sebagai pusat napas alam. Hutan itu mengelilingi sebuah telaga sunyi, airnya hitam kehijauan dan tak pernah tersentuh cahaya matahari sepenuhnya. Orang-orang menyebutnya Telaga Alas Wening.

Di tempat itulah hidup seorang pertapa tua bernama Ki Jangkar Manik. Ia bukan resi biasa. Sejak muda, Ki Jangkar Manik dipilih oleh para leluhur untuk menjaga perbatasan antara dunia kasar dan dunia halus. Tugasnya sederhana namun berat: memastikan manusia tidak melampaui batas, dan alam tidak murka tanpa sebab.

Puluhan tahun ia bertapa. Ia berbicara dengan angin, mendengar bahasa pepohonan, dan membaca pertanda dari gerak air telaga. Namun zaman mulai berubah. Manusia datang membawa kapak dan api. Hutan yang dulu dianggap suci perlahan ditebang, telaga dicemari, dan aturan leluhur dilupakan. Sesaji dianggap tak penting, pamit sebelum masuk hutan dianggap tak perlu.

Ki Jangkar Manik mengetahui, bila keseimbangan itu runtuh, bencana akan datang bukan dari alam saja, tapi dari dunia gaib yang selama ini tertidur.

Pada suatu malam bulan mati, ia menerima wangsit terakhir. Para leluhur berkata bahwa penjaga alam tidak lagi cukup berbentuk manusia. Diperlukan makhluk malam, sesuatu yang ditakuti namun juga dihormati. Penjaga yang bisa melihat dari langit, mendengar dari jauh, dan hadir tanpa disadari.

Ki Jangkar Manik pun memilih jalan pamungkas.

Di tepi Telaga Alas Wening, ia melakukan laku terakhir, puasa tujuh hari, tujuh malam tanpa bergerak. Saat malam ketujuh tiba, angin berputar kencang, air telaga bergolak, dan bayangan hitam membentang di langit. Tubuh sang pertapa perlahan berubah tulang memanjang, kulit menipis menjadi selaput, dan kedua lengannya menjelma sayap raksasa.

Ketika fajar datang, Ki Jangkar Manik telah tiada.

Yang tersisa hanyalah makhluk bersayap besar, bermata merah temaram, berdiam di pepohonan tertinggi. Saat ia membuka mulutnya, terdengar suara panjang yang menggema di seluruh hutan:

“A-hoool… a-hoool…”

Sejak itulah ia dikenal sebagai Ahool.

Ahool tidak menyerang tanpa alasan. Ia terbang rendah di atas telaga dan sungai sunyi, mengawasi setiap langkah manusia. Mereka yang masuk hutan dengan niat serakah akan mendengar suaranya semakin dekat, hingga akal mereka goyah. Banyak pembalak yang mengaku melihat bayangan besar menutup bulan, lalu kehilangan arah, berputar-putar di tempat yang sama hingga tubuh mereka lemah dan ketakutan.

Namun bagi orang-orang tua yang masih memegang adat, Ahool adalah tanda penjagaan. Jika suaranya terdengar dari kejauhan, mereka tahu sudah saatnya pulang. Jika sayapnya melintas tanpa suara, itu berarti alam masih memberi ampun.

Ahool menjadi bagian dari malam Jawa. Ia tidak tinggal sepenuhnya di dunia manusia, juga tidak kembali ke alam roh. Ia berada di antara keduanya penjaga batas, saksi perubahan zaman.

Hingga kini, saat hutan tiba-tiba sunyi dan danau tak beriak meski angin berembus, orang-orang percaya Ahool sedang mengawasi. Bukan untuk menakuti, melainkan mengingatkan:

bahwa alam bukan milik manusia, dan setiap pelanggaran selalu memiliki penjaga yang tak terlihat.