PECUNIA - Mitologi Jawa tidak hanya berbicara tentang makhluk gaib, ritual, atau legenda rakyat, tetapi juga menyimpan kisah kosmik tentang asal mula para dewa dan keseimbangan alam semesta. Salah satu kisah paling tua dan jarang dibahas secara mendalam adalah tentang retaknya Kahyangan, peristiwa awal yang melahirkan konflik, kehendak bebas, dan turunnya para dewa ke dunia manusia.
Cerita ini dipercaya menjadi fondasi dari banyak mitos Jawa, mulai dari keberadaan dewa penjaga alam, konsep takdir, hingga hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih tinggi.
Kahyangan Sebelum Retak, Alam Kesempurnaan Tanpa Pertanyaan
Sebelum dunia mengenal gunung, laut, dan manusia, hanya ada keheningan yang berlapis-lapis. Keheningan itu bukan kekosongan, melainkan ruang tempat Sang Hyang Wenang, penguasa tertinggi dalam kosmologi Jawa, bersemayam. Dari kehendak-Nya tercipta Kahyangan, alam suci yang tidak mengenal waktu, usia, atau kematian.
Para dewa hadir sebagai cahaya. Mereka tidak dilahirkan dan tidak mengenal akhir. Segala sesuatu berjalan dalam keteraturan mutlak, tanpa konflik dan tanpa pertanyaan. Pada masa ini, kehendak pribadi belum dikenal, karena semua sudah ditentukan oleh kehendak tertinggi.
Munculnya Kesadaran dan Bisikan Terlarang
Kesempurnaan Kahyangan mulai terusik bukan oleh perang, melainkan oleh kesadaran. Dari sudut alam suci yang paling sunyi, muncul bisikan yang tidak pernah diperintahkan dan tidak pernah diciptakan. Bisikan itu mempertanyakan makna kehendak dalam dunia yang seluruhnya telah ditentukan.
Awalnya para dewa mengabaikan bisikan tersebut. Namun perlahan, ia menumbuhkan rasa ingin tahu. Para dewa mulai menyadari keberadaan diri mereka sendiri, bukan sekadar sebagai ciptaan, tetapi sebagai entitas yang memiliki potensi untuk memilih.
Inilah titik awal lahirnya konflik kosmik dalam mitologi Jawa.
Pertanyaan Pertama yang Mengguncang Kahyangan
Salah satu dewa, yang dikenal bukan karena kekuatan melainkan kebijaksanaannya, mengajukan pertanyaan kepada Sang Hyang Wenang. Pertanyaan itu tidak diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan kesadaran yang dalam: apakah para dewa hidup semata-mata karena kehendak tertinggi, ataukah mereka memiliki kehendak sendiri yang belum pernah digunakan.
Sang Hyang Wenang tidak menjawab. Keheningan-Nya menjadi jawaban yang ambigu. Bagi sebagian dewa, diam itu terasa seperti penolakan. Sejak saat itu, Kahyangan tidak lagi sepenuhnya utuh, karena di dalamnya telah tumbuh perbedaan pandangan tentang takdir dan kebebasan.
Baca Juga : Siapa Sebenarnya Ahool dalam Mitologi Jawa?
Penciptaan Dunia dan Retaknya Kahyangan
Para dewa yang mempertanyakan takdir tidak berniat menjatuhkan Sang Hyang Wenang. Mereka hanya ingin membuktikan bahwa kehendak mereka nyata. Maka terciptalah sebuah dunia baru, dunia yang tidak abadi, mengenal perubahan, batas, dan penderitaan. Dunia inilah yang kelak menjadi tempat hidup manusia.
Ketika dunia itu terbentuk, Kahyangan bergetar. Untuk pertama kalinya, alam suci mengenal retakan. Kesempurnaan tidak runtuh oleh kekerasan, melainkan oleh penciptaan tanpa izin. Retakan inilah yang menandai awal kekacauan kosmik dalam mitologi Jawa.
Turunnya Para Dewa ke Dunia Manusia
Sang Hyang Wenang akhirnya bersuara, namun bukan dengan murka atau kutukan. Ia mengingatkan bahwa setiap kehendak memiliki harga yang harus dibayar. Para dewa yang melanggar tidak dihancurkan, melainkan diturunkan ke dunia yang mereka ciptakan sendiri.
Mereka kehilangan keabadian, tetapi memperoleh tugas. Sejak saat itu, para dewa dikenal sebagai penjaga gunung, penguasa laut, pengatur angin, dan penuntun nasib manusia. Hubungan antara dunia gaib dan dunia manusia pun terbentuk, bukan sebagai hubungan penyembahan semata, melainkan sebagai warisan dari konflik kosmik purba.
Makna Retaknya Kahyangan dalam Kepercayaan Jawa
Dalam pandangan Jawa, retaknya Kahyangan bukanlah kejatuhan mutlak, melainkan awal dari keseimbangan baru. Dunia yang tidak sempurna memungkinkan adanya pertumbuhan, penderitaan, dan kebijaksanaan. Manusia dipercaya mewarisi pertanyaan yang sama dengan para dewa: tentang takdir, kehendak, dan pilihan hidup.
Orang-orang tua Jawa meyakini bahwa retakan Kahyangan tidak pernah benar-benar tertutup. Setiap kali manusia melawan nasibnya, mempertanyakan kekuasaan, atau mencari makna hidup, retakan itu kembali bergetar. Dan bila suatu hari pertanyaan pertama itu diucapkan dengan kesadaran penuh, para dewa yang jatuh akan dipanggil kembali, entah untuk memperbaiki dunia atau mengakhiri siklus yang sejak awal tidak pernah sepenuhnya sempurna.
