
PECUNIA - Mitos menyapu di malam hari merupakan salah satu kepercayaan lama yang masih hidup di tengah masyarakat Jawa. Sejak dulu, larangan ini kerap disampaikan oleh orang tua kepada anak-anak sebagai bentuk nasihat agar tidak melakukan aktivitas tersebut setelah matahari terbenam. Ungkapan seperti “aja nyapu wayah wengi, mengko rejekine ilang” bukan sekadar larangan biasa, melainkan pesan budaya yang mengajarkan cara menghargai rezeki dan menjalani hidup dengan tertib.
Asal-usul mitos ini berakar dari kondisi kehidupan masyarakat Jawa pada masa lampau. Pada zaman dahulu, penerangan masih sangat terbatas dan rumah-rumah hanya mengandalkan lampu minyak atau obor. Dalam keadaan gelap, menyapu di malam hari berisiko membuat benda-benda kecil yang bernilai ikut tersapu dan terbuang tanpa disadari. Kehilangan barang akibat keteledoran inilah yang kemudian dimaknai sebagai hilangnya rezeki.
Dalam pandangan masyarakat Jawa, rezeki tidak hanya diartikan sebagai uang atau harta benda, tetapi juga mencakup kesehatan, keselamatan, ketenteraman, dan keharmonisan keluarga. Oleh karena itu, segala bentuk tindakan ceroboh yang berpotensi menimbulkan kerugian dianggap sebagai bentuk kurangnya rasa syukur. Menyapu di malam hari kemudian dipandang sebagai simbol membuang keberkahan yang telah ada di dalam rumah.
Jika larangan ini dilanggar, masyarakat Jawa percaya akan muncul berbagai dampak negatif. Rezeki diyakini menjadi seret, usaha terasa sulit berkembang, dan pengeluaran sering kali lebih besar daripada pemasukan. Selain itu, suasana rumah dipercaya menjadi kurang harmonis dan sering muncul masalah kecil yang tidak jelas sebabnya. Dalam kepercayaan yang lebih mistis, menyapu di malam hari juga diyakini dapat mengundang energi negatif karena malam dianggap sebagai waktu aktif makhluk halus.
Meski terkesan mistis, mitos ini sebenarnya memiliki penjelasan logis yang cukup masuk akal. Menyapu di malam hari memang kurang efektif karena keterbatasan penglihatan, terutama pada masa lalu. Aktivitas ini lebih aman dan efisien dilakukan di pagi atau siang hari ketika cahaya cukup terang. Selain itu, larangan ini juga berkaitan dengan pola hidup tradisional yang menempatkan malam hari sebagai waktu istirahat agar tubuh siap bekerja keesokan harinya.
Dalam kehidupan modern, mitos menyapu di malam hari tidak lagi dipahami secara harfiah oleh semua orang. Sebagian masyarakat masih mematuhinya sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan nasihat leluhur, sementara yang lain memaknainya sebagai simbol pengingat agar hidup lebih tertib dan berhati-hati. Pada akhirnya, mitos ini bukan sekadar cerita turun-temurun, melainkan wujud kearifan lokal Jawa yang mengajarkan disiplin, rasa syukur, dan penghormatan terhadap rezeki dalam bentuk apa pun.