Minggu, 18 Januari 2026

Suara Nyanyian di Dapur dan Kepercayaan Jawa yang Sarat Unsur Mistis

PECUNIA - Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, mitos bernyanyi di dapur berakar dari pandangan bahwa dapur bukan sekadar ruang untuk memasak, melainkan tempat yang memiliki nilai simbolis tinggi. Sejak zaman dahulu, dapur dianggap sebagai pusat kehidupan rumah tangga karena dari sanalah makanan, sumber tenaga, dan keberlangsungan keluarga berasal. 

Dapur juga dikaitkan dengan unsur api yang dipercaya memiliki energi kuat dan harus diperlakukan dengan sikap hormat. Oleh karena itu, segala perilaku di dapur dianjurkan dilakukan dengan tenang dan penuh kesadaran. Bernyanyi, tertawa berlebihan, atau bersikap ceroboh dianggap sebagai tindakan yang tidak pantas di ruang yang sakral tersebut.

Apabila mitos ini dilanggar, masyarakat Jawa meyakini akan muncul berbagai akibat yang bersifat mistis maupun simbolis. Salah satu akibat yang paling sering disebut adalah datangnya jodoh yang tidak diinginkan, seperti pasangan yang memiliki sifat buruk atau membawa kesialan dalam rumah tangga. Selain itu, bernyanyi di dapur juga dipercaya dapat menyebabkan rezeki menjadi seret, kehidupan rumah tangga tidak harmonis, serta sering terjadi pertengkaran. 

Dalam versi lain, pelanggaran mitos ini diyakini bisa mengundang energi negatif atau makhluk halus yang tertarik pada suara nyanyian, sehingga membuat suasana rumah terasa tidak nyaman. Kepercayaan ini kemudian diwariskan secara turun-temurun sebagai bentuk peringatan agar anggota keluarga menjaga sikap saat berada di dapur.

Jika dilihat dari sudut pandang logis, mitos bernyanyi di dapur sebenarnya mengandung pesan moral dan nilai praktis. Bernyanyi saat memasak dapat membuat seseorang kehilangan fokus, sehingga meningkatkan risiko kecelakaan seperti terkena minyak panas, tersayat pisau, atau makanan menjadi gosong. Pada masa lalu, ketika peralatan dapur masih sederhana dan berisiko tinggi, menjaga konsentrasi adalah hal yang sangat penting. 

Selain itu, larangan ini juga berfungsi sebagai bentuk pendidikan etika, terutama bagi perempuan, agar bersikap tenang, sopan, dan bertanggung jawab dalam mengurus rumah tangga. Dengan demikian, mitos bernyanyi di dapur tidak hanya menjadi cerita kepercayaan semata, tetapi juga sarana orang tua Jawa untuk menanamkan kedisiplinan, kehati-hatian, dan penghormatan terhadap peran dapur dalam kehidupan keluarga.