
PECUNIA - Larangan memotong kuku di malam hari merupakan salah satu kepercayaan lama yang masih hidup di tengah masyarakat Jawa. Sejak dulu, nasihat ini kerap diucapkan orang tua kepada anak-anak sebagai bentuk peringatan agar tidak melakukan aktivitas tersebut setelah matahari terbenam. Meskipun terdengar sepele, pantangan ini dipercaya memiliki kaitan erat dengan keselamatan, nasib, dan keseimbangan hidup menurut pandangan tradisional Jawa.
Kepercayaan ini berakar dari kondisi kehidupan masyarakat Jawa di masa lampau, ketika malam hari identik dengan kegelapan. Pada masa itu, penerangan masih sangat terbatas dan hanya mengandalkan lampu minyak dengan cahaya redup. Memotong kuku dalam kondisi seperti ini dianggap berbahaya karena berisiko melukai jari. Namun, alih-alih menjelaskan alasan teknis tersebut, para leluhur memilih membungkusnya dalam bentuk mitos agar lebih mudah diterima dan ditaati oleh semua kalangan.
Dalam kepercayaan yang berkembang, memotong kuku di malam hari diyakini dapat membawa kesialan. Ada yang percaya perbuatan tersebut bisa memperpendek umur, menghambat rezeki, atau mengundang penyakit yang datang tanpa sebab jelas. Beberapa cerita bahkan menyebutkan bahwa potongan kuku yang jatuh di malam hari dapat dimanfaatkan oleh makhluk halus untuk hal-hal buruk, sehingga tindakan ini dianggap membuka celah gangguan dari dunia tak kasat mata.
Cerita-cerita tersebut semakin diperkuat dengan anggapan bahwa malam hari adalah waktu ketika energi gaib sedang aktif. Aktivitas tertentu yang melibatkan anggota tubuh dipercaya dapat menarik perhatian makhluk halus. Karena itu, larangan memotong kuku tidak hanya dipandang sebagai aturan kebersihan, tetapi juga sebagai bentuk perlindungan diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Jika dilihat secara logis, mitos ini sebenarnya menyimpan pesan rasional. Risiko cedera akibat pencahayaan yang buruk menjadi alasan utama munculnya larangan tersebut. Luka kecil akibat salah memotong kuku pada masa lalu bisa berakibat serius karena keterbatasan pengobatan. Selain itu, orang Jawa juga mengenal pembagian waktu yang jelas antara siang dan malam, di mana siang digunakan untuk bekerja dan merawat diri, sementara malam difokuskan untuk beristirahat dan menenangkan pikiran.
Melalui mitos ini, leluhur Jawa mengajarkan kehati-hatian, kedisiplinan, dan keteraturan hidup dengan cara yang sederhana namun membekas. Meski kini kondisi sudah berubah dan teknologi penerangan semakin maju, larangan memotong kuku di malam hari tetap dikenang sebagai bagian dari kearifan lokal yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan secara halus dan simbolis.