
PECUNIA - Pada akhir abad ke-16, Mataram bukanlah kerajaan besar seperti yang dikenal kemudian. Wilayahnya masih rapuh, kekuasaannya belum sepenuhnya diakui oleh pesisir utara, dan ancaman dari kekuatan lama seperti Pajang dan pengaruh asing masih nyata. Seorang raja Jawa pada masa itu tidak hanya dituntut kuat secara militer, tetapi juga sah secara kosmologis.
Dalam tradisi Jawa, kekuasaan tidak berdiri sendiri. Seorang raja dianggap benar-benar berdaulat jika ia mampu menyelaraskan tiga unsur: manusia, alam, dan kekuatan tak kasatmata. Tanpa keseimbangan itu, pemerintahan dipercaya akan berumur pendek.
Baca Juga : Sabdo Palon, Semar, dan Pulau Jawa, Mitos Penjaga Tanah Jawa yang Masih Hidup
Karena itulah, dalam catatan lisan keraton dan tradisi kejawen, diceritakan bahwa raja Mataram melakukan laku tapa ke wilayah selatan. Bukan sebagai tindakan mistik semata, melainkan sebagai ritual legitimasi kekuasaan. Laut selatan pada masa itu dipandang sebagai wilayah paling liar, paling kuat, dan paling tidak bisa ditaklukkan manusia. Menghadap laut berarti mengakui keterbatasan diri sebagai penguasa.
Di sanalah muncul figur yang kemudian dikenal sebagai Kanjeng Ratu Kidul.
Dalam pemahaman Jawa kuno, Kanjeng Ratu Kidul bukan sekadar makhluk gaib, melainkan personifikasi kekuatan alam selatan: laut, badai, ketidakpastian, dan kehancuran. Ia mewakili segala hal yang tidak bisa dikontrol oleh kekuasaan manusia. Maka “pertemuan” dengan Ratu Kidul tidak harus dimaknai sebagai perjumpaan fisik, tetapi sebagai kesadaran spiritual seorang raja terhadap batas kekuasaannya.
Dari laku itulah lahir apa yang kemudian dikenal sebagai Perjanjian Raja Jawa.
Perjanjian ini bukan kontrak tertulis, melainkan kesepakatan kosmologis. Intinya sederhana: raja Mataram berhak memerintah tanah Jawa selama ia menjaga keseimbangan, tidak melampaui batas, dan menghormati tatanan alam serta rakyatnya. Sebaliknya, kekuatan selatan tidak akan mengganggu stabilitas kerajaan selama raja menjalankan perannya dengan benar.
Baca Juga : Sejarah Aksara Jawa Menurut Kisah Aji Saka
Sejak saat itu, hubungan simbolik antara raja Mataram dan Kanjeng Ratu Kidul dijaga dengan ketat. Upacara-upacara tertentu dilakukan secara rutin, bukan sebagai pemujaan, tetapi sebagai pengingat bahwa kekuasaan raja selalu diawasi oleh kekuatan yang lebih besar.
Inilah sebabnya dalam mitos Jawa, raja-raja Mataram selalu digambarkan memiliki hubungan khusus dengan laut selatan. Hubungan itu bersifat politis dan spiritual, bukan romantis. Laut selatan berfungsi sebagai cermin ketika raja adil, kerajaan stabil; ketika raja lalai, kekacauan muncul.
Catatan sejarah menunjukkan bahwa setiap kali Mataram mengalami konflik internal besar, perebutan tahta, atau kebijakan yang menindas rakyat, masa itu selalu dibingkai dalam narasi kosmis seolah alam sendiri ikut bereaksi. Bagi masyarakat Jawa saat itu, ini bukan tahayul, melainkan cara memahami sebab-akibat dalam skala besar.
Hingga kini, kisah Kanjeng Ratu Kidul dan raja Mataram tetap hidup bukan karena keajaibannya, tetapi karena fungsinya. Ia menjadi pengingat bahwa kekuasaan di Jawa sejak awal tidak pernah dimaknai sebagai hak mutlak, melainkan amanah yang selalu bisa dicabut jika keseimbangan dilanggar.
Baca Juga : Asal Usul Dewa Jawa dan Retaknya Kahyangan dalam Mitologi Jawa Kuno
Dan mungkin, itulah alasan mengapa kisah ini terus diwariskan: bukan untuk menakuti, tetapi untuk mengingatkan bahwa dalam pandangan Jawa, raja setinggi apa pun tetap berada di bawah hukum semesta.