
PECUNIA - Sejak masa peradaban kuno, manusia meyakini bahwa para dewa bukan hanya simbol kekuatan ilahi, tetapi juga penjaga tatanan moral. Dalam berbagai mitologi, kutukan para dewa digambarkan sebagai hukuman bagi mereka yang melanggar batas keserakahan, kesombongan, dan pengkhianatan. Menariknya, kepercayaan tentang kutukan ini tidak sepenuhnya menghilang, bahkan hingga era modern, banyak orang masih merasa bahwa dampaknya tetap menghantui kehidupan manusia, meski dalam bentuk yang berbeda.
Dalam mitologi Yunani dan peradaban kuno lainnya, kutukan jarang digambarkan sebagai hukuman instan. Hukuman tersebut lebih sering berupa penderitaan yang berulang, seperti yang dialami Sisyphus yang harus mendorong batu tanpa akhir, atau Narcissus yang terjebak dalam cintanya pada diri sendiri. Pola ini menunjukkan bahwa kutukan bukan sekadar hukuman supranatural, melainkan gambaran tentang akibat dari kesalahan yang terus diulang tanpa pembelajaran.
Jika ditinjau secara logis, konsep kutukan para dewa dapat dipahami sebagai simbol konsekuensi psikologis dan sosial. Manusia yang mengabaikan nilai moral, hidup dalam keserakahan, atau menolak introspeksi cenderung terjebak dalam masalah yang sama sepanjang hidupnya. Inilah yang membuat kutukan terasa seolah masih aktif, padahal yang bekerja adalah pola perilaku dan keputusan yang salah.
Di era modern, kutukan tidak lagi muncul dalam bentuk petir dari langit atau murka para dewa. Ia hadir sebagai trauma masa lalu, konflik keluarga yang diwariskan, hingga kegagalan berulang dalam hubungan dan karier. Pola ini sering kali tidak disadari, sehingga seseorang merasa hidupnya terus “sial” tanpa memahami akar masalahnya. Dalam perspektif ini, kutukan berfungsi sebagai metafora atas kegagalan manusia memahami dan memperbaiki dirinya sendiri.
Psikologi modern menjelaskan bahwa pikiran manusia cenderung mengulang pengalaman yang belum terselesaikan. Ketika rasa bersalah, dendam, atau kesombongan tidak diolah dengan sehat, hal tersebut berubah menjadi siklus penderitaan. Konsep inilah yang sejak dahulu divisualisasikan oleh mitologi sebagai kutukan para dewa, agar manusia belajar tentang batas, tanggung jawab, dan konsekuensi.
Pada akhirnya, kutukan para dewa dapat dipahami bukan sebagai ancaman mistis semata, melainkan sebagai peringatan simbolis. Selama manusia terus mengulangi kesalahan yang sama tanpa kesadaran, maka penderitaan akan terus mengikuti. Dalam konteks ini, mitologi tidak bertentangan dengan logika, melainkan menjadi cara kuno untuk menjelaskan hukum sebab-akibat dalam kehidupan manusia.