Senin, 12 Januari 2026

Asal Usul Primbon Jawa Catatan Rahasia Leluhur yang Bertahan Ratusan Tahun

PECUNIA - Primbon Jawa bukanlah kitab ramalan yang muncul secara tiba-tiba. Dalam mitologi Jawa dan kepercayaan Jawa kuno, Primbon lahir dari proses panjang pengamatan leluhur terhadap alam, waktu, dan kehidupan manusia. Jauh sebelum masyarakat Jawa mengenal kalender modern, para empu, resi, dan pujangga sudah mencatat keteraturan hari, musim, serta peristiwa penting yang berulang dari generasi ke generasi.

Awalnya, catatan Primbon Jawa dibuat berdasarkan pengalaman nyata. Orang Jawa kuno mengamati bahwa hari tertentu sering membawa keberuntungan, sementara hari lain justru kerap diikuti musibah. Dari pengamatan inilah muncul konsep weton Jawa, neptu hari, pasaran, dan perhitungan waktu yang dipercaya memengaruhi watak, rezeki, serta perjalanan hidup seseorang. Semua itu dicatat secara teliti dalam bentuk naskah lontar dan disimpan di padepokan maupun lingkungan keraton.

Dalam sejarah mitologi Jawa, Primbon juga berfungsi sebagai panduan hidup. Ia digunakan untuk menentukan hari baik membangun rumah, memulai perjalanan, pernikahan, hingga bercocok tanam. Bagi masyarakat Jawa lama, hidup harus selaras dengan irama alam, karena alam dipercaya memiliki kehendak yang harus dihormati. Inilah sebabnya Primbon tidak dianggap sekadar kepercayaan mistis, melainkan pedoman agar manusia tidak melawan keseimbangan semesta.

Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, Primbon Jawa tidak dihapus. Para wali, termasuk Sunan Kalijaga, memilih menyesuaikan isi Primbon dengan ajaran ketuhanan. Unsur pemujaan dihilangkan, sementara nilai kearifan dan etika hidup tetap dipertahankan. Sejak saat itu, Primbon lebih dipahami sebagai warisan budaya dan kebijaksanaan leluhur, bukan kitab ramalan mutlak tentang masa depan.

Secara etimologis, kata “Primbon” dipercaya berasal dari kata imbu atau imbunan, yang berarti kumpulan catatan penting. Artinya, Primbon Jawa adalah arsip pengalaman hidup orang Jawa yang telah diuji oleh waktu. Setiap hitungan, simbol, dan makna di dalamnya lahir dari kejadian nyata yang berulang, bukan dari khayalan semata.

Hingga kini, Primbon Jawa masih dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai bagian dari mitologi Jawa dan identitas budaya Nusantara. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai pengingat agar manusia hidup lebih waspada, selaras dengan alam, dan menghormati warisan leluhur.