Selasa, 13 Januari 2026

Bukan Sekadar Mitos! Alasan Orang Jawa Takut Anak Keluar Rumah Saat Maghrib


PECUNIA - Larangan keluar rumah saat maghrib merupakan salah satu mitos Jawa yang masih dipercaya hingga kini. Sejak dahulu, masyarakat Jawa meyakini bahwa waktu maghrib adalah masa peralihan dari siang menuju malam, di mana suasana mulai berubah menjadi lebih sunyi dan gelap. Pada waktu inilah, menurut kepercayaan turun-temurun, dunia manusia dan dunia gaib berada dalam jarak yang paling dekat, sehingga makhluk halus dipercaya mulai berkeliaran.

Cerita tentang sosok-sosok mistis seperti wewe gombel sering dikaitkan dengan anak-anak yang masih bermain di luar rumah saat maghrib tiba. Mitos ini berkembang luas di tengah masyarakat sebagai peringatan agar anak-anak segera pulang ketika matahari terbenam. Dengan cara ini, orang tua zaman dulu dapat mengontrol aktivitas anak tanpa perlu penjelasan panjang, cukup dengan cerita yang menimbulkan rasa takut namun mudah diingat.

Di balik unsur mistis tersebut, larangan keluar rumah saat maghrib juga memiliki makna budaya yang kuat. Waktu maghrib dianggap sebagai saat yang penting untuk beribadah, membersihkan diri, dan berkumpul bersama keluarga. Masyarakat Jawa menanamkan nilai kedisiplinan dan kepatuhan melalui mitos ini, sehingga anak-anak terbiasa menghormati waktu dan aturan yang berlaku di lingkungan mereka.

Jika ditinjau secara logis, larangan tersebut sebenarnya berkaitan erat dengan faktor keselamatan. Pada masa lalu, kondisi lingkungan belum dilengkapi dengan penerangan yang memadai. Saat maghrib, jarak pandang mulai berkurang, sehingga risiko kecelakaan, tersesat, atau gangguan dari binatang menjadi lebih besar, terutama bagi anak-anak yang bermain jauh dari rumah.

Selain itu, waktu menjelang malam juga sering menjadi periode rawan kejahatan. Dengan membatasi anak-anak untuk tetap berada di dalam rumah, orang tua secara tidak langsung melindungi mereka dari berbagai bahaya. Mitos pun dijadikan sebagai alat edukasi tradisional yang efektif, karena mampu menanamkan kepatuhan tanpa harus menjelaskan risiko secara rasional yang mungkin sulit dipahami anak-anak.

Hingga era modern saat ini, larangan keluar rumah saat maghrib masih dianggap relevan oleh sebagian masyarakat. Meskipun kepercayaan terhadap makhluk gaib mulai berkurang, nilai utama dari mitos ini tetap dipertahankan, yaitu menjaga keselamatan, mengatur waktu bermain, dan membangun kebiasaan positif di malam hari. Dengan demikian, mitos maghrib tidak hanya menjadi cerita mistis, tetapi juga warisan kearifan lokal yang mengandung pesan kehidupan yang rasional dan bermanfaat.