Kamis, 15 Januari 2026

Jangan Pernah Bersiul di Malam Hari! Inilah Mitos Jawa yang Masih Ditakuti Hingga Kini

PECUNIA - Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, larangan bersiul di malam hari sudah dikenal sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun. Malam dianggap sebagai waktu yang sakral, ketika batas antara dunia manusia dan dunia tak kasat mata dipercaya menjadi lebih dekat. 

Karena itu, perilaku manusia pada malam hari diharapkan lebih terjaga. Suara siulan diyakini bukan sekadar bunyi biasa, melainkan menyerupai isyarat atau panggilan tertentu yang bisa menarik perhatian makhluk halus. Oleh sebab itu, orang tua Jawa kerap melarang anak-anak bersiul pada malam hari karena dikhawatirkan tanpa sadar “menyapa” keberadaan yang tidak terlihat.

Jika pantangan ini dilanggar, masyarakat percaya akan muncul berbagai kejadian yang tidak menyenangkan. Mulai dari perasaan merinding tanpa sebab, mendengar suara aneh yang seolah membalas siulan, hingga mengalami mimpi buruk atau gangguan tidur. Dalam cerita yang lebih ekstrem, bersiul di malam hari dipercaya bisa membuat seseorang “diikuti” makhluk gaib, terutama jika dilakukan berulang kali dan di tempat yang sepi. 

Kisah-kisah seperti ini biasanya diperkuat oleh pengalaman pribadi atau cerita dari orang-orang terdahulu, sehingga kepercayaan tersebut semakin mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Namun jika dilihat secara logis, larangan bersiul di malam hari sebenarnya dapat dipahami dari sisi psikologis dan sosial. Pada zaman dahulu, kondisi malam sangat sunyi, gelap, dan minim penerangan, sehingga suara siulan terdengar asing dan bisa memicu rasa takut, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. 

Rasa cemas yang muncul kemudian berkembang menjadi sugesti, seolah ada sesuatu yang mengintai atau mengganggu. Selain itu, larangan ini juga berfungsi sebagai bentuk pendidikan agar masyarakat lebih menjaga ketenangan dan tidak menimbulkan kegaduhan di waktu istirahat, yang kemudian dibungkus dengan cerita mistis agar lebih mudah dipatuhi.