
PECUNIA - Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, rumah tusuk sate adalah istilah untuk rumah yang berada tepat di ujung jalan lurus atau pertigaan, sehingga seolah-olah “ditusuk” oleh arah jalan di depannya. Mitos ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dan masih dipercaya hingga sekarang, terutama di pedesaan. Rumah dengan posisi seperti ini dianggap berada pada jalur energi yang tidak seimbang. Jalan lurus dipercaya sebagai jalur laju energi yang kuat, dan ketika energi tersebut langsung menghantam rumah, maka keseimbangan penghuni di dalamnya diyakini akan terganggu. Oleh karena itu, sejak dahulu orang Jawa sangat berhati-hati memilih lokasi rumah dan menghindari posisi tusuk sate.
Akibat dari tinggal di rumah tusuk sate dipercaya cukup beragam, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Banyak cerita yang menyebutkan bahwa penghuni rumah sering mengalami konflik keluarga, kesulitan ekonomi, hingga masalah kesehatan yang datang silih berganti. Selain itu, rumah tusuk sate juga kerap dikaitkan dengan gangguan gaib, seperti suara aneh di malam hari, perasaan tidak nyaman tanpa sebab, hingga mimpi buruk yang dialami penghuni rumah. Dalam kepercayaan Jawa, kondisi ini dipercaya muncul karena rumah berada di titik “terbuka”, sehingga lebih mudah dimasuki energi negatif maupun makhluk tak kasat mata yang melintas mengikuti arah jalan.
Tak hanya itu, rumah tusuk sate juga sering dianggap sebagai tempat berkumpulnya energi sial atau bala. Jalan lurus di depan rumah dipercaya membawa arus nasib yang keras dan tidak terkendali. Jika tidak ada penahan atau penghalang, energi tersebut akan langsung menghantam rumah dan memengaruhi kehidupan penghuninya. Oleh sebab itu, sebagian orang Jawa melakukan ritual tertentu, memasang pagar tinggi, pohon besar, atau bahkan benda-benda khusus sebagai penangkal agar energi buruk tidak langsung masuk ke dalam rumah.
Jika dilihat secara logis dan rasional, mitos rumah tusuk sate sebenarnya dapat dijelaskan dari sudut pandang psikologis dan lingkungan. Rumah yang berada di ujung jalan lurus memang lebih rawan secara keselamatan karena berisiko terkena kendaraan yang melaju kencang atau mengalami kecelakaan. Kondisi ini secara tidak sadar menimbulkan rasa waspada berlebih, stres, dan ketidaknyamanan bagi penghuninya. Dalam jangka panjang, tekanan psikologis tersebut bisa memicu konflik keluarga, gangguan tidur, dan perasaan tidak tenang, yang kemudian dikaitkan dengan hal-hal mistis.
Selain itu, rumah di pertigaan atau ujung jalan biasanya lebih bising, lebih terbuka, dan minim privasi dibanding rumah di lokasi lain. Faktor lingkungan inilah yang membuat penghuni merasa tidak aman dan tidak nyaman. Keadaan tersebut kemudian dibungkus dengan cerita mistis agar mudah dipahami dan dipatuhi oleh masyarakat. Dengan demikian, mitos rumah tusuk sate bukan hanya soal kepercayaan gaib, tetapi juga bentuk kearifan lokal masyarakat Jawa dalam menjaga keselamatan, ketenangan, dan keseimbangan hidup.