
PECUNIA - Dalam kepercayaan Jawa, hidup manusia tidak pernah dilepaskan dari keseimbangan antara lahir dan batin. Kesuksesan tidak semata diukur dari harta atau jabatan, tetapi dari selaras tidaknya seseorang dengan dirinya sendiri, lingkungannya, dan tatanan alam. Inilah sebabnya mengapa dalam mitos dan ajaran Jawa kuno, kegagalan sering dikaitkan dengan “kehilangan keseimbangan”, bukan sekadar nasib buruk.
Konsep lelaku dan tirakat dalam budaya Jawa sering disalahpahami sebagai praktik mistis semata. Padahal, di balik simbol dan ritualnya, lelaku adalah latihan pengendalian diri. Puasa, menyepi, dan pantangan tertentu mengajarkan kesabaran, disiplin, serta kemampuan menunda kepuasan. Seseorang yang mampu menaklukkan keinginannya sendiri diyakini akan lebih siap menghadapi tantangan hidup, termasuk dalam urusan rezeki dan kedudukan.
Dalam banyak kisah Jawa, orang yang “kesandung nasib” biasanya bukan karena dikutuk makhluk gaib, melainkan karena melanggar tatanan moral yaitu serakah, tidak tahu unggah-ungguh, atau melupakan asal-usulnya. Mitos tentang bala atau sial sejatinya berfungsi sebagai pengingat agar manusia tidak melampaui batas. Ketika seseorang bertindak sembrono, dampaknya muncul dalam bentuk konflik sosial, kehilangan kepercayaan, atau keputusan hidup yang keliru.
Kepercayaan mistis Jawa juga membentuk cara berpikir. Orang yang yakin hidupnya dijaga biasanya lebih tenang, tidak mudah panik, dan berani mengambil tanggung jawab. Sebaliknya, mereka yang merasa dirinya “kena sial” cenderung ragu, takut mencoba, dan mudah menyerah. Tanpa disadari, keyakinan ini memengaruhi tindakan sehari-hari, yang pada akhirnya menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam hidup.
Namun, ajaran Jawa tidak pernah mengajarkan pasrah tanpa usaha. Pepatah seperti “Gusti ora sare” dan “sapa nandur bakal ngundhuh” menekankan bahwa setiap tindakan memiliki akibat. Tirakat tanpa kerja keras dianggap kosong, sementara kerja keras tanpa kesadaran batin dianggap pincang. Kesuksesan lahir dari perpaduan usaha nyata dan kejernihan sikap.
Dengan demikian, kepercayaan mistis dalam budaya Jawa bukanlah alat ajaib pembawa sukses, melainkan kerangka nilai yang membentuk mental, etika, dan disiplin hidup. Selama kepercayaan itu digunakan untuk memperbaiki diri, ia bisa menjadi sumber kekuatan. Namun jika dijadikan alasan untuk menghindari tanggung jawab, maka kepercayaan itu justru berubah menjadi belenggu.