
PECUNIA - Di tengah modernisasi dan kemajuan zaman, kepercayaan terhadap hari dan weton larangan masih kuat tertanam dalam kehidupan masyarakat Jawa. Bagi sebagian orang, perhitungan hari bukan sekadar penanggalan, melainkan pedoman hidup yang dipercaya mampu menentukan keselamatan, keberuntungan, hingga nasib seseorang. Hingga hari ini, weton masih dijadikan acuan penting sebelum menggelar hajatan, pernikahan, bahkan sebelum melakukan perjalanan jauh.
Dalam kepercayaan Jawa, setiap orang lahir dengan weton tertentu, gabungan antara hari pasaran dan hari masehi. Weton ini diyakini membawa energi tersendiri yang dapat memengaruhi jalan hidup seseorang. Namun tidak semua hari dianggap baik, Ada hari dan weton tertentu yang dipercaya sebagai hari larangan karena menyimpan energi buruk atau membuka celah datangnya bala dan kesialan.
Baca Juga: Siapa Punokawan? Tokoh Rakyat dalam Mitologi dan Pewayangan Jawa
Salah satu weton yang paling sering dihindari untuk hajatan besar adalah weton dengan neptu tinggi yang bertabrakan dengan neptu pasangan atau keluarga inti. Jika perhitungan ini diabaikan, masyarakat percaya akan muncul pertanda buruk, mulai dari rezeki seret, rumah tangga tidak harmonis, hingga penyakit yang datang tanpa sebab jelas. Oleh karena itu, tidak sedikit orang Jawa yang rela menunda pernikahan hanya demi menunggu hari yang dianggap selaras.
Selain untuk pernikahan, weton larangan juga sangat diperhatikan sebelum bepergian jauh. Hari tertentu dipercaya sebagai waktu ketika makhluk halus lebih aktif dan mudah mengganggu manusia. Dalam cerita yang beredar dari mulut ke mulut, banyak orang mengalami kejadian aneh saat bepergian di hari larangan, seperti tersesat, kendaraan mogok di tempat sunyi, hingga mengalami mimpi buruk sebelum berangkat.
Baca Juga: Sunan Kalijaga dan Wayang, Bahasa Rahasia Dakwah dalam Budaya Jawa
Masyarakat Jawa lama percaya bahwa hari-hari tertentu merupakan “hari terbuka”, saat dunia manusia dan dunia gaib berada dalam jarak yang sangat dekat. Pada waktu inilah, manusia dianggap lebih rentan terhadap gangguan makhluk tak kasat mata. Itulah sebabnya orang tua zaman dahulu selalu melarang anak cucunya melakukan perjalanan atau mengadakan acara besar tanpa hitungan weton yang tepat.
Menariknya, kepercayaan terhadap weton larangan tidak hanya hidup di desa-desa tradisional. Hingga kini, praktik ini masih dijalankan oleh masyarakat perkotaan, bahkan oleh mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi. Banyak yang beranggapan bahwa mempercayai weton bukanlah bentuk takhayul, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan yang tidak terlihat.
Baca Juga: Sejarah Kanjeng Ratu Kidul dan Raja Mataram dalam Mitos Jawa
Bagi sebagian orang, weton larangan bukan soal benar atau salah, melainkan bentuk kehati-hatian. Jika hari baik dapat mendatangkan ketenangan batin, maka menghindari hari buruk dianggap sebagai cara menghormati kearifan leluhur. Kepercayaan ini pun terus diwariskan, menjadikan weton sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Jawa.
Hingga hari ini, hari dan weton larangan masih menjadi sesuatu yang ditakuti sekaligus dihormati. Di balik perhitungan yang rumit dan aturan yang ketat, tersimpan keyakinan bahwa hidup manusia tidak pernah benar-benar lepas dari pengaruh alam semesta dan kekuatan yang lebih besar dari dirinya.