Pada masa ketika waktu belum memiliki nama, langit dan bumi masih bergerak mengikuti kehendak para dewa. Hari-hari berlalu tanpa hitungan, dan manusia hidup dengan rasa takut karena mereka tak pernah tahu kapan banjir Nil datang, kapan menanam, atau kapan kematian menjemput.
Di singgasana langit, Ra, dewa matahari, menguasai perjalanan waktu. Setiap hari ia berlayar dengan perahunya melintasi langit, lalu tenggelam ke dunia bawah saat malam tiba. Waktu adalah miliknya, dan tak satu pun boleh mengubahnya.
Namun di antara para dewa, ada satu yang berani menantang takdir: Nut, dewi langit.
Nut mengandung anak-anak cahaya, hasil cintanya dengan Geb, dewa bumi. Tapi Ra murka. Ia mengutuk Nut agar tidak boleh melahirkan pada hari apa pun dalam satu tahun. Dan pada masa itu, satu tahun hanya terdiri dari 360 hari tanpa celah, tanpa ruang untuk kelahiran.
Nut menangis di langit malam, tubuhnya membentang dipenuhi bintang-bintang yang belum sempat lahir ke dunia.
Melihat penderitaan itu, Thoth, dewa kebijaksanaan dan penulis waktu, turun tangan. Ia tahu, melawan Ra secara langsung adalah kehancuran. Maka ia memilih cara lain cara yang lebih cerdas.
Thoth menantang Khonsu, dewa bulan, dalam permainan dadu suci. Taruhannya bukan emas atau kuasa, melainkan cahaya bulan itu sendiri. Setiap kemenangan Thoth merampas sedikit sinar bulan, hingga bulan semakin redup.
Dari cahaya yang terkumpul itu, Thoth menciptakan lima hari baru hari-hari yang tidak termasuk dalam tahun mana pun. Hari-hari ini berada di luar kekuasaan Ra. Di luar waktu.
Dan pada hari-hari terlarang itu, Nut akhirnya melahirkan.
Hari pertama lahirlah Osiris, pembawa kehidupan dan keteraturan.
Hari kedua lahirlah Horus Tua, cahaya pelindung langit.
Hari ketiga lahirlah Set, dewa badai dan kekacauan.
Hari keempat lahirlah Isis, dewi sihir dan kasih.
Hari kelima lahirlah Nephthys, penjaga batas antara hidup dan mati.
Ra menyadari tipu daya itu, namun semuanya telah terjadi. Waktu telah berubah, dan tak bisa dikembalikan.
Sejak saat itu, manusia Mesir menghitung tahun menjadi 365 hari. Mereka membagi waktu menjadi musim banjir, musim tanam, dan musim panen menyelaraskan hidup mereka dengan ritme Sungai Nil dan perjalanan bintang.
Lima hari tambahan itu disebut Hari-hari Epagomenal hari suci, hari berbahaya, hari di mana para dewa dilahirkan dan nasib manusia ditentukan.
Dan hingga kini, orang Mesir kuno percaya, pada hari-hari itu, dunia para dewa dan dunia manusia berdiri paling dekat karena waktu sendiri pernah dilanggar, demi kehidupan.
