Senin, 19 Januari 2026

Misteri Candikala: Waktu Magrib yang Ditakuti Orang Jawa Sejak Zaman Leluhur

PECUNIA - Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, candikala dipercaya sebagai waktu peralihan dari siang menuju malam, biasanya terjadi saat matahari terbenam hingga suasana benar-benar gelap. Waktu ini dianggap sakral sekaligus berbahaya karena diyakini sebagai momen bertemunya dunia manusia dan alam gaib. Oleh sebab itu, sejak dahulu candikala sering dipandang sebagai waktu yang rawan gangguan makhluk halus dan penuh energi mistis, sehingga masyarakat diajarkan untuk lebih berhati-hati dalam beraktivitas.

Asal-usul mitos candikala berakar dari bahasa Jawa Kuno, di mana kata candi berarti batas dan kala berarti waktu. Maknanya adalah batas antara dua fase kehidupan, terang dan gelap. Dalam mitologi Jawa, candikala sering dikaitkan dengan sosok Bathara Kala, makhluk gaib yang dipercaya berkeliaran pada waktu-waktu peralihan untuk mencari manusia yang lengah. Kepercayaan ini membuat candikala dianggap sebagai waktu yang tidak baik untuk melakukan aktivitas di luar rumah.

Berbagai larangan pun muncul seiring berkembangnya mitos ini. Anak-anak dilarang bermain di luar rumah saat candikala, orang dewasa dianjurkan tidak bepergian jauh, dan sebagian masyarakat percaya mandi atau melakukan aktivitas berat pada waktu ini bisa mendatangkan kesialan. Konon, pelanggaran terhadap larangan tersebut dapat menyebabkan seseorang mudah sakit, mengalami ketakutan berlebihan, atau bahkan gangguan nonfisik seperti kesurupan. Karena itu, suara azan magrib sering dijadikan penanda agar semua orang segera masuk rumah.

Secara logis, mitos candikala dapat dipahami sebagai bentuk kearifan lokal. Pada waktu senja, pencahayaan mulai berkurang sehingga risiko kecelakaan meningkat, terutama bagi anak-anak. Selain itu, perubahan suhu dan kondisi tubuh yang mulai lelah setelah seharian beraktivitas bisa memengaruhi kesehatan. Larangan-larangan saat candikala pada akhirnya berfungsi sebagai cara orang tua zaman dulu untuk melindungi keluarga, menjaga keselamatan, serta menanamkan disiplin melalui cerita mitos yang mudah diingat dan diwariskan turun-temurun.