Senin, 19 Januari 2026

Bukan Sekadar Tradisi, Sedekah Bumi Dipercaya Menentukan Nasib Desa


PECUNIA - Sedekah Bumi merupakan tradisi adat masyarakat Jawa yang telah diwariskan sejak masa Jawa Kuno dan masih bertahan hingga kini. Tradisi ini lahir dari keyakinan leluhur Jawa bahwa manusia hidup berdampingan dengan alam dan sangat bergantung pada kesuburan bumi. Oleh karena itu, Sedekah Bumi dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen, keselamatan, dan kelimpahan rezeki yang diperoleh selama satu musim tanam.

Asal-usul Sedekah Bumi berkaitan erat dengan kepercayaan animisme dan dinamisme yang dianut masyarakat Jawa sebelum masuknya agama-agama besar. Pada masa itu, bumi dipercaya memiliki kekuatan spiritual dan dijaga oleh roh-roh alam. Jika manusia memperlakukan alam dengan baik, maka kehidupan akan berjalan harmonis. Sebaliknya, jika alam diabaikan, dipercaya akan muncul berbagai masalah seperti gagal panen dan bencana. Dari kepercayaan inilah Sedekah Bumi dilakukan sebagai ritual penghormatan kepada bumi.

Pelaksanaan Sedekah Bumi biasanya dilakukan di balai desa atau tempat yang dianggap sakral. Masyarakat membawa hasil panen terbaik seperti padi, sayuran, dan buah-buahan yang kemudian disusun dalam bentuk tumpeng. Prosesi arak-arakan, doa bersama, serta makan bersama menjadi simbol kebersamaan dan gotong royong. Tradisi ini tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga desa.

Dalam kepercayaan Jawa, Sedekah Bumi yang tidak dilakukan diyakini dapat mengganggu keseimbangan alam dan kehidupan masyarakat. Leluhur percaya hal tersebut bisa berdampak pada menurunnya hasil panen, munculnya penyakit, konflik sosial, atau kesulitan ekonomi. Keyakinan ini menjadi pengingat agar manusia tidak melupakan rasa syukur dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Di era modern, Sedekah Bumi tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga sebagai upaya pelestarian budaya dan penggerak ekonomi desa. Meski mengalami perubahan, esensi Sedekah Bumi sebagai warisan rasa syukur dan keharmonisan dengan alam tetap dijaga hingga sekarang.