Minggu, 11 Januari 2026

Kutukan Raja Medang Kuno: Mitos Darah Pengorbanan di Balik Kesuburan Tanah Jawa

PECUNIA - Dalam tradisi lisan Jawa, Kerajaan Medang Kuno tidak hanya dikenal sebagai kerajaan besar yang membangun candi dan sistem pemerintahan awal, tetapi juga sebagai sumber berbagai kisah mitologi yang berhubungan dengan kesuburan tanah, kutukan raja, dan pengorbanan manusia. Salah satu kisah yang paling gelap adalah legenda tentang seorang raja Medang yang menolak titah para dewa.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa kuno, tanah Jawa dijaga oleh kekuatan alam dan leluhur yang harus dihormati melalui ritual tertentu. Kesuburan sawah, keteraturan musim, dan keselamatan rakyat diyakini bergantung pada keseimbangan antara manusia dan kekuatan gaib tersebut.

Dalam kisah ini, raja Medang digambarkan sebagai penguasa yang ambisius dan percaya bahwa kejayaan kerajaan sepenuhnya berasal dari kekuatan manusia. Ia menolak ajaran para pendeta yang menyerukan pelaksanaan upacara persembahan untuk menjaga keseimbangan alam. Bagi sang raja, ritual dianggap tidak lebih dari tradisi lama yang menghambat kemajuan.

Baca Juga : Lelaku dan Tirakat dalam Budaya Jawa: Antara Psikologi dan Spiritualitas

Sebagai simbol kekuasaannya, raja memerintahkan pembangunan sebuah candi besar di pusat kerajaan. Candi tersebut tidak dipersembahkan kepada dewa atau leluhur, melainkan untuk memuliakan dirinya sendiri. Relief yang terpahat di dinding candi menggambarkan kemenangan perang, ketundukan rakyat, dan sosok raja sebagai pusat kekuasaan.

Setelah candi selesai dibangun, kondisi alam mulai berubah. Musim hujan tidak menentu, panen gagal, dan wabah penyakit menyebar di berbagai wilayah Medang. Para pendeta menafsirkan kejadian ini sebagai tanda terganggunya keseimbangan alam akibat kesombongan raja.

Alih-alih memperbaiki keadaan, raja justru menanggapi krisis dengan kekerasan. Pemberontakan kecil dari rakyat yang kelaparan ditumpas tanpa ampun. Banyak korban berjatuhan, dan darah mereka mengalir ke ladang-ladang yang sebelumnya kering.

Baca Juga : Bukan Raja, Bukan Dewa, Siapa Sebenarnya Satria Piningit dalam Mitologi Jawa

Dalam kepercayaan rakyat, peristiwa inilah yang melahirkan mitos bahwa tanah Jawa menjadi subur karena pengorbanan darah. Pada musim tanam berikutnya, sawah-sawah di wilayah yang sebelumnya dilanda kekeringan justru menghasilkan panen melimpah. Hal ini memperkuat keyakinan bahwa kesuburan tanah menuntut korban.

Para pendeta kemudian menyimpulkan bahwa kutukan sejati tidak ditujukan kepada rakyat, melainkan kepada rajanya. Untuk menghentikan siklus penderitaan, sang raja harus menjadi pengorbanan terakhir. Riwayat sejarah resmi tidak mencatat secara jelas bagaimana akhir hidup raja tersebut. Nama dan masa pemerintahannya menghilang dari prasasti, seolah sengaja dihapus.

Sejak saat itu, berkembang kepercayaan bahwa raja Medang tersebut tidak benar-benar mati, melainkan dikutuk menjadi penjaga gaib tanah Jawa. Ia dipercaya terikat selamanya pada bumi yang dahulu ia kuasai, menjaga kesuburan tanah sebagai penebusan atas kesombongannya.

Baca Juga : Mengapa Pulau Jawa Penuh Gunung? Konon Ini Adalah Paku Dunia dari Para Dewa

Mitos ini hingga kini sering dikaitkan dengan kepercayaan Jawa tentang hubungan antara darah, tanah, dan kekuasaan. Kesuburan bumi tidak dipandang sebagai anugerah tanpa syarat, melainkan hasil dari pengorbanan dan keseimbangan yang harus dijaga.